KALAM

Ihsan, Meninggikan Derajat Kemuliaan Orang yang Beriman”

Ihsan, Menjadikan Diri Mulia

 DERAJAT ihsan merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba Allah yang khusus saja yang bisa mencapai derajat mulia ini. Bila kita ingin meraihnya maka perbuatan baik dalam segala hal yang dapat mewujudkannya. Seorang yang berada dalam kondisi marah, dengan sangat emosi, bahkan dendam yang membara dalam hatinya, namun bila dapat menahannya dan justru menunjukkan perbuatan baik yang ikhlas dan sepenuh jiwa, maka itulah sesungguhnya ihsan yang dimaksud.

Ustadz H Mugiono, M.Pdi, yang menyampaikan Kajian Hadist, Pada Ahad awal November  lalu, di Masjid Al Furqon Palembang mengupas soal pengertian dan bagaimana sebenarnya seseorang sampai pada taraf ihsan. Dijabarkan Mugiono, tingkatan agama yang paling tinggi adalah ihsan, kemudian iman, dan paling rendah adalah Islam. Kaum muhsinin (orang-orang yang memiliki sifat ihsan) merupakan hamba pilihan dari hamba-hamba Allah yang shalih. Oleh sebab itu, sebagian ulama menjelaskan jika ihsan sudah terwujud berarti iman dan Islam juga sudah terwujud pada diri seorang hamba.

Jadi, setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Namun tidak berlaku sebaliknya. Tidak setiap muslim itu mukmin dan tidak setiap mukmin itu mencapai derajat muhsin. Orang yang ihsan adalah hamba pilihan dari hamba-hamba Allah yang shalih. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an disebutkan hak-hak mereka secara khusus tanpa menyebutkan hak yang lainnya. Digambarkan pula, bahwa mencintai orang lain laksana mencintai diri sendiri merupakan ajaran yang sangat mulia. Merasa tak pernah cukup dalam urusan materi kerap menjadi benteng kokoh, penghalang menebarkan kebaikan kepada sesama. Di situlah jihad besar dilakukan, mengendalikan hawa nafsu serakah yang tidaklah mudah.

Iman Itu Sempurna

Dalam menyempurnakan keimanan, antara kesalehan individu dengan kesalehan sosial atau berbuat kebaikan yang ikhlas harus selaras. Akidah kokoh dalam jiwa harus dipancarkan dalam kebaikan yang nyata, sehingga bisa dirasakan sesama. Kesalehan sosial dan individual yang menyatu akan menjadi tameng tangguh dari godaan keserakahan. ”Jika anak Adam memiliki satu lembah emas, dia akan mencari agar menjadi dua lembah dan tidak ada yang akan menutup mulutnya melainkan tanah. Dan, Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (HR Bukhari dan Muslim No 1049).

Kecenderungan kecintaan kepada tahta, harta, dan wanita sering kali membutakan mata hati. Belas kasih, kepedulian kepada sesama menjadi sirna. Berlomba-lomba mengumpulkan harta tiada batas, lalai pada ibadah, hingga akhir dari kehidupan. Ada sebuah kisah pada masanya yang diambil dari Kisah Para Sahabat. Suatu hari keluarga Ali bin Abi Thalib RA dan Fatimah Az-Zahra kedatangan seorang fakir yang meminta makanan. Saat itu, keduanya sedang bersiap-siap untuk makan.  Dengan penuh kasih sayang, Ali dan Fatimah pun memberi makanan yang akan mereka santap dan memilih berpuasa.

Baca Juga:   Perjalanan Miris Pedagang Pasar Cinde, Dibongkar hingga Kebakaran Hebat

Besoknya, kejadian itu berulang lagi, bahkan hingga tiga hari berturut-turut. Keluarga putri Rasulullah Saw. tersebut akhirnya harus berpuasa.,   Begitulah teladan dari mukmin sejati. Ali dan Fatimah begitu peduli terhadap sesama. Tak harus menunggu lapang untuk peduli dan berbagi. Rasulullah Saw. bersabda, ”Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya dengan segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, berupa kebaikan.” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam hidup ini,  kalaupun perbuatan kebaikan kepada seseorang malah dibalas dengan keburukan, berprasangka baiklah kepada Allah Swt., bahwa Allah menyayangi dan akan membalas semua kebaikan dengan derajat kemuliaan dan ketenangan jiwa atau yang setimpal dengan itu. Tetaplah berbuat baik dan tak harus membalasnya. Percayalah, Allah Swt. Yang Maha Rahman dan Rahim akan membalasnya. Tak akan pernah kebaikan bertukar dengan keburukan.  Bila tidak besok, nanti atau anak cucu kita yang akan merasakan buahnya. Teruslah menebar peduli maka hidup ini akan merasakan bahagia tiada henti.

 

 Kisah Inspriratif

Kemudian lagi dalam kisah lain yang sering kita dengar di berbagai tempat, namun kiranya tidak bosan-bosannya untuk kita hikmahi. Alkisah, Nabi sedang bersama para sahabat, tiba-tiba mendadak kedatangan tamu yang bersih, memakai pakaian putih, tidak tampak jejak-jejak perjalanan. Orang itu tetiba duduk di depan Nabi dan menanyakan perihal iman, islam, ihsan, serta hari kiamat. Seperginya orang tersebut, Nabi berujar kepada para sahabat: “…(orang yang bertanya kepada Nabi) itu malaikat Jibril. Ia datang untuk mengajar kepada kalian agama yang kalian anut (yaitu Islam).” Cerita populer ini dicatat oleh Imam an-Nawawi dalam kumpulan hadist Al Arba’in an-Nawawiyah. Hadist tersebut dinilai banyak ulama sebagai hadist yang mencakup keseluruhan pembahasan tentang agama Islam.

Melalui hadist tersebut, kita melihat bahwa Islam terkait dengan ritual ibadah yang mesti dipenuhi seorang Muslim, sedangkan iman adalah hal-hal yang mesti dipahamkan dan diyakini bagi setiap Muslim. Tulisan ini akan membahas bagian tentang ihsan – yang terkait dengan pengamalan ibadah dan juga keyakinan kepada Allah. Ihsan menurut jawaban Nabi kepada malaikat Jibril adalah  (Ihsan adalah) hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab meski engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu…” Banyak ulama menjelaskan apa itu ihsan, dan pembahasan terkaitnya amat luas. Salah satunya, ihsan dipahami sebagai suatu derajat dalam ibadah yang sulit dicapai untuk kalangan awam. Namun belum tentu ia tidak bisa diupayakan dan dilatih.

Baca Juga:   Ikhlas dengan Tiada Berharap Balasan

Pada satu tulisan seorang ulama, Muhammad Iqbal Syauqi, alumnus Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences; mahasiswa Profesi Dokter UIN Jakarta, menggambarkan Syaikh Ahmad al-Fasyani yang mengulas perihal ihsan ini dalam karyanya Al-Majalisus Saniyyah syarah dari kitab hadits Al Arba’in an Nawawiyah. Beliau mencatat bahwa seorang hamba dalam ibadahnya itu terdiri dari tiga macam. Pertama, adalah orang yang melakukan ibadah semata menggugurkan kewajiban.

Namun hal itu mesti dilakukan dengan terlebih dahulu mengetahui syarat dan rukun ibadah yang dilakukan. Seperti halnya mengetahui tata cara wudhu, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya. Kedua, adalah derajat mukasyafah. Ia merasakan hingga seolah “melihat” dan “memperhatikan” oleh Allah. Derajat ini seperti yang dirasakan oleh Nabi dalam saat shalat, “…dan dijadikan shalat itu sebagai kebahagiaan/pelipur laraku…” (Al Hadist) Ketiga, adalah ibadah dengan merasakan ibadahnya diawasi oleh Allah. Derajat ini adalah derajat muraqabah, yaitu perasaan dilihat Allah.

Jika mukasyafah adalah rasa mampu melihat-Nya, jika tak mampu, seorang mukmin mesti senantiasa merasa muraqabah, merasa diperhatikan dan dekat dengan-Nya. Seorang hamba mungkin tidak mampu mencapai derajat ru’yatullah (“melihat” Allah), namun ia bisa selalu berusaha mendekatkan diri dan diawasi oleh Allah, karena imannya meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengawasi. Keseluruhan derajat atau maqam tersebut adalah bentuk ihsan. Seperti disinggung di atas, untuk menempuh ihsan dalam ibadah terlebih dahulu dapat dengan mulai memahami pengamalan syarat dan rukun ibadah.

Tata cara ibadah atau syariat, sekurang-kurangnya untuk hal yang esensial atau ‘ilmul haal perlu dicermati. Sehingga dapat dipahami bahwa dalam menempuh dan menjalankan ihsan, langkah yang bisa dimulai adalah dengan mempelajari syariat Islam, utamanya yang terkait kebutuhan sehari-hari. Sedangkan derajat muraqabah dan mukasyafah mesti dilatih terus-menerus, salah satunya melalui pembelajaran dan pengamalan tasawuf. Kedua derajat itu dimiliki oleh kalangan khawash. Kita semua yang awam perlu tetap belajar dan rendah hati, dan tentu saja dalam meniti proses itu dibutuhkan kesabaran. Semoga usaha dan kesabaran itu yang dicatat Allah sebagai amal baik dan diridhai-Nya.(*)

Penulis: Bangun Lubis

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button